What actually we ladies need to do and to have..

I know, lots of women count on feelings than logic. It’s cliché, everyone knows. Of course we are,  our hormones do complicate us more than it complicate men. But let’s being realistic. You women must be having lots of love issues from dating a wrong guy, trusting false affections, hoping too much on men, etc. Those things.. Should be a warning for us to be more careful with, haha, those Cassanovas around us, ladies. What I wanna tell you from this writings, is that you should leave that guy, who makes you wait, or doesn’t text you back, or come and go as he please–IMMEDIATELY. I mean, come on, we’re on our 20th and we’re not wasting time for the wrong men like ever again. It’s not the time to play anymore. We should be an assertive woman who takes the lead, who makes the decisions, cause.. Call me cliché once more but fck it, there’s a lot of guy on the line!

And, please. You can not live with only love, but slap me in the ass if I’m wrong, we need a settled man for our lives. Not the rich one, but at least, he’s responsible enough with he’s own life. For example? Like graduating he’s college! Cause he knows that education is a big matter on carrier life, in this competitive era. Haha, you can call me naïve. You may have your own justification that maybe there’s some people who is not graduated, is capable to have a big company because they are smart in a tactical practice. Or in other side, there might be a graduated man who becomes a taxi driver. Come on! Those kind, of justifications, is just 2 of 10 in reality. In the other hand, your justification is just a minor.

My Dad said, “A responsible man, should have everything to make them a successful person in the relationship to The Up Above, in his family, and his own life. To take pray 5 times a day, is a responsible. To finish the college, is a responsible. To make his life enough and has some savings for the future, is a responsible. To work for his parents and siblings, is a responsible. To keep his appearance nice and clean, is a responsible.” And many more. Yes, I got his point. It’s not only taking us home after movie night. Or being faithful by dating us for years without cheating. Or whatever. It’s way mooore bigger than that.. An additional to me, he should keep his privacy. Not because he’s keeping a bad secret. But keeping his privacy, is the way of someone respects himself. That’s what gentlemen do. And that’s what I learned lately. Of course, with some sense of humor too (giggling). And the one that match our souls. It’s not easy to find. Damn girl, for two times I would say that fall in love is hard. If it’s easy, then it will go awayeasily.

Be in love, with a responsible man. If you’re having a crush or maybe dating someone who is not responsible for himself (YET), you should start to think where the relationship will go. Don’t have a relationship with only based on love or because you are scared to be lonely, or whatever.

I’m saying this, just to be realistic. Not to offend men, nor women. I don’t know my destiny either. Not yet. But I guess, some sort of lessons could be a handbook to step aside to the better place in the future and knows what we want and need the most in marrying someone.

Advertisements

Bicara Tentang Jakarta

(Sila diputar dahulu)

Mari bicarakan kota itu, kota harapan seribu umat yang termaktub di bawah bendera merah putih; Jakarta. Mari bercerita tentang Jakarta, tempat pertama dimana aku mulai berharap untuk senantiasa hidup dengan baik, dan menghirup oksigen pertamaku. Tentang Jakarta, yang menyambut kehadiranku di dunia dengan merah fajar miliknya.

Ya, inilah Jakarta. Kota yang dulunya kunanti kala ku merantau di pulau Sumatra nan asing. Dengan Bandara besar yang membuatku menganga rindu 9 tahun lamanya. Di Jakarta, tak ada yang asing bagiku. Setiap sudutnya ku kenal dengan baik, hingga kuenyam jalan-jalan tikus di beberapa kawasan. Kerabatku tersebar  dimana-mana sehingga ku tak perlu lagi merasa telah dikucilkan oleh Jakarta. Pun tersebar sudut-sudut seni dimana aku bisa menenggelamkan pikiranku yang kerap termangu. Benar, Jakarta telah berhasil menjadi tempatku berguru tentang bagaimana berdaya upaya untuk bangkit kembali selepas realita acap kali meruntuhkan jiwa dan pikiranku yang  gemar berkasih mesra.

Namun, kawan, Jakarta telah beranjak uzur. Tak lagi lincah, tak menyenangkan layaknya dahulu. Aku mulai jemu dengan guratan luka bakar asmara yang tersemat di tiap sudutnya.

Aku geram dengan manusia-manusia yang saling menghimpit dengan para urban, berdesakan, berebut jalan pulang ke rumah dengan latar belakang hasrat yang ingin menyambut istri, suami, anak, orang tua, atau bahkan selingkuhan. Halo, manusia, semuanya jua ingin pulang.

Aku jengah dengan pohon beton yang menjulang tinggi dengan suara klakson mobil dan motor yang saling memaki di bawahnya. Ke kanan, ke kiri, tak bisa ku berlari terbentur sekat tinggi yang menyerang tensi darahku.

Aku pegal hati melihat infrastruktur yang merusak keharmonisan jalanan di Jakarta yang semestinya indah dipadu dengan lampu kotanya yang gemerlap.

Aku gondok dengan peraturan pemerintah–yang inginnya menyelamatkan Jakarta–namun justru menambah kesengsaraan masyarakatnya.

Dan aku selalu naik pitam dengan kriminalitas yang dilakukan oleh insan-insan liar, tak berpendidikan dan tak punya hati.

Setuju padaku, bukan?

Apa ini karena  Jakarta? Ataukah ini aku yang sedianya mengingat Jakarta dengan begitu apik lantaran ku mengenalnya kala diriku masih sungguh belia–tak punya beban nestapa. Kemudian kegetiran terus menyapa bertubi-tubi hingga pada akhirnya aku muak dengan Jakarta dan ingin berlari saja darinya?

Sulit, untuk merasa kasmaran lagi pada Jakarta. Lantas, aku beranikan diri untuk menabur jarak antara ku dengannya. Aku mengambil langkah panjang yang jauh dan menabur jarak antara ku dengan Jakarta. Walaupun mesti dengan susah payah kelaknya ku bangun kembali jaringan sosial di tempat yang baru, tak  mengapa. Agar aku bisa menghargai keberadaannya dan merindu kembali. Kemudian menerima Jakarta apa adanya. Karena mungkin jauh di lubuk hatiku tersirat makna Jakarta sebagai kota kelahiranku dan tempat dimana ku akan kembali lagi.

Untuk hati. Dari logika.

“Sista, kamu segalanya yang aku punya. Jangan pernah berpaling dariku. Jangan kaburkan pandanganku sehingga aku dengan serampangan mengambil jalan yang membawa kita pada nestapa. Jangan tenggelamkan dirimu ke dalam cinta yang membutakan. Jangan biarkan kita berdua membinasakan raga ini. Aku butuh kerja samamu, Sista. Kali ini, turutilah semua perkataanku. Niscaya, pilu seberat dunia ini pun akan sanggup mengenyahkan dirinya darimu. Percayalah pada Sang Waktu, bahwa lara akan berhenti menyayatmu. Karena ia akan membawakan penawar paling mujarab. Mari?”

Halo, Masa Lalu.

Halo masa lalu yang tengah berbahagia. Ingat aku? Seseorang yang pernah berdiri bersamamu, ditengah gaungan lara yang kau gemakan ketika hidup tak berpihak padamu.

Halo masa lalu yang sedang terhelak tawa dalam kemesraan. Ini aku.. Orang yang kerap melakukan hal bodoh lewat pikiran pendeknya demi mempertahankan senyum mu, kemudian kau tersenyum untuk perempuan yang sedang berada di pelukanmu saat ini.

Halo masa lalu yang tak jarang mencederai kepercayaanku. Tak apa, mungkin kau belum menemukan apa yang kau cari dalam diriku sehingga kau terus mengepakkan sayap dan terbang bebas tanpa mengenal pulang.

Maafkan aku, masa lalu, hatiku terlalu mudah terpecah belah kala kau mengingkari segala perkataanmu sehingga aku selalu menyentak dirimu untuk kembali turun dan terperangkap bersamaku yang gemar merajuk.

Maafkan aku, masa lalu, yang sukar dalam membuatmu tetap merasa hidup ketika berada di sekitarku. “Membosankan”, ujarmu.

Maafkan aku, masa lalu, ternyata ketegaranku hanya bertahan 12 bulan; menembus batas kemampuan tertinggiku dalam mencintai seseorang tanpa menghitung cacatnya.

Apa yang salah dariku, masa lalu? Sehingga kau hanya tega singgah untuk memporakporandakan segala pertahanan dan suaka suci yang terbentang di belantara dadaku. Seingatku, aku sudah mencintaimu dengan sangat baik. Aku sudah memelukmu dengan cukup hangat. Dan terlalu bertumpahan kenangan yang kau dan aku tuai bersama. Dan seingatku, aku telah memaafkan segala celamu yang tak kau akui; bahkan ketika kau mendamba mereka-mereka yang mencoba untuk menyeberangi perjalananku yang cukup tangguh dalam mempertahankanmu.

Mungkinkah aku hanya pilihanmu yang keliru? Atau katastrope yang kau tanggulangi akibatnya sehingga memaksamu untuk berhipokrit di depanku?

Masa lalu, aku tak perlu kau kasihani. Aku tak perlu kau tanggulangi bila aku tak pernah benar-benar menyentuh dasar kalbumu.

Mungkin kau hanya sebagian cerita dari perjalanan panjangku. Lantas, langkah demi langkah aku turut membakar segala kenangan dan menebar abunya di tempat yang tak akan pernah ku temui kembali, namun tetap kusimpan dalam pelukanku intisari yang baik dari cuplikan-cuplikan yang pernah kita damba bersama.

Masa lalu, biarkan aku terisak dalam tangis malam ini dan mengenang mu, kemudian melupakanmu dari segala kekecewaan yang pernah kukecap karena mu.

Kembali lah mengudara dan temukan landasanmu, sayang..

Ketakutan

Aku benci dibohongi. Dicurangi menurutku adalah hal terhina yang pernah ku terima sepanjang ku pernah berinteraksi dengan manusia lainnya. Sehingga aku mudah cemas, mudah curiga, pikiran buruk menggerogoti seisi kepalaku setiap waktunya. Namun ironis, aku adalah pembohong ulung dimana orang-orang yang aku bohongi tak pernah menyadari bahwa aku tengah berbohong. Bahkan aku bisa berbohong menahun, dan aku melakukannya dengan penuh penghayatan, lolos dari kenyataan, semudah ku menghirup dan menghembuskan nafas.

Aku takut sesuatu yang tidak pasti. Aku tidak suka jawaban yang tertunda. Membuatku gelisah akan hasil yang pada akhirnya akan kudapatkan.  Segalanya, bagiku harus pasti. Jika iya, maka yang dilakukan iya. Dan jika tidak, maka yang dilakukan tidak.

Aku juga takut akan perasaan diabaikan, atau tidak dihargai atas semua hal yang telah ku perjuangkan kepada seseorang.

Seperti berjalan di tengah hutan yang gelap, takut akan Srigala, Ular, atau hanyut ditelan aliran sungai, atau jatuh ke dalam lubang yang cukup dalam dan sangat gelap hingga tidak ada orang lain yang bisa menemukan ku dan aku membusuk di dalamnya.

Namun aku terlalu lelah ketakutan. Hingga akhirnya aku harus menghadapi ketakutan itu sendiri. Aku harus tangkas untuk menyelamatkan diriku sendiri dari ketakutan. Mungkin, aku akan membiarkan segala hal yang membuatku takut, menghampiri. Hingga aku berkenalan, aku memahami, mengapa mereka kerap sekali membuatu takut. Hingga aku kebal, dan mempelajari bagaimana menaklukannya.

Ketika kecurangan atau kebohongan menghampiri, aku menyiapkan sebuah kaca besar bagaimana aku berperilaku selama ini. Aku tidak akan menyalahkan orang lain karena sudah mencurangi ku hingga ku lihat tidak ada lagi kebohongan di dalam kaca besar di hadapan ku itu. Jika sudah tidak ada, maka mungkin aku akan lebih handal lagi dalam menghadapi kebohongan. Aku akan lebih mudah terhindar dari omong kosong, atau terbodohi oleh hal-hal yang seharusnya tidak mengenaiku.

Kala ketidakpastian menghampiri, aku masih akan terus berusaha untuk mewujudkannya. Jujur, aku masih sulit memeluk segala hal yang berada di luar ekspektasiku. Namun jika semuanya terasa buntu, aku akan mengurutkan kejadian-kejadian dibalik yang bisa terlihat oleh mata dan menjadikan sebuah kesimpulan kenapa hal ini tidak bisa terjadi. Lalu berusaha dengan keras untuk menerimanya. Kaena aku hidup dengan motto “What I want, I’ll get”. Ini proses pendewasaan yang sungguh tidak mudah jika kalian mau tahu.

Dan waktu aku merasa tidak dihargai, mungkin aku harus pulang dari perjuangan dan membahagiakan diriku sendiri. Oh, sangat jelas. Aku masih tengah dalam perjuangan yang rasanya tak sanggup untuk kuakhiri. Mungkin aku sudah dilecehkan karena kurangnya kemampuanku untuk pulang dan menghargai diriku sendiri dan berbahagia bahwa aku telah berani tegas menyudahi hal yang membuatku terlihat lemah. Namun tanpa merasa tidak dihargai, mungkin aku tidak akan tahu bahwa aku adalah orang yang tak gentar, bahwa aku orang yang keras, bahwa aku orang yang berani, dan bahwa aku adalah orang yang kuat.

Kemarilah, ketakutan. Aku layani kau dengan sepenuh hati.

Terjadilah, ketakutan. Maka aku akan mahir mengalahkanmu.

Melalang Buana

Sudah kesekian ratus kali aku bersemayam di kamarmu dan menyadari bahwa aku mampu mencintaimu hanya dari aroma yang kau tinggalkan di dalamnya saja; Aroma tembakau yang kau bakar tadi malam, aroma keringat tidurmu karena keabsenan pendingin ruangan, dan aroma parfum yang kau gunakan tadi pagi sebelum berangkat kerja.

Namun sepertinya segala rasa cintaku yang mendalam ini belum cukup untuk menahanmu pergi berkelana.

Sayang, melalang buanalah.. Sebelum kau bersumpah mencintaiku seumur hidup.

Melalang buanalah.. Aku akan mencoba untuk menunggumu di rumah; atau berkunjung ke rumah sebelah lalu kembali lagi.

Melalang buanalah.. Hingga kandas sudah tenagamu.

P A C A R A N

(Di-play dulu lagunya biar lebih syahdu)

Here’s a little bubbly talks from me today.

Seriously, pacaran itu berat. Mencintai seseorang itu gak seindah foto yang dipajang di media sosial. Relationship’s hard. Whatever it is called, rarely to find easy ways to encounter the relationship. Gue sering merasa gagal, sering merasa kecewa (apalagi untuk orang super baperan macam gue), sering hampir berada di ambang batas. Ya mungkin ada sebagian orang yang gak terlalu baperan and just enjoy the relationship. Sebenernya mudah sih, tinggal komuniasi aja. But trust me.. Ketika segala masalah dicampur emosi dan ego, dijamin mau komunikasi aja udah males, udah capek hati sendiri. Dan gue yakin 70% perempuan akan menemukan kesulitan-kesulitan serupa dalam berhubungan pacaran.

A lot of problems. Really, a lot of problems. Bukan sekedar pacar kita gak bales pesan singkat kita, atau pacar gak bilang sayang satu harian, atau permasalahan-permasalahan anak ABG lainnya. We are getting older, kita mulai menemukan jati diri, started to find what we want and don’t, what we need and what we don’t need. Dan lama kelamaan apa yang menjadi latar belakang keluarga atau pengalaman, mengalir dan memancar dari diri kita dan membentuk suatu karakter yang unik dan beda-beda.

Disinilah kenapa tadi gue bilang susah, menggabungkan dua kepribadian yang berbeda dalam satu ikatan perasaan dilandasi komitmen yang disebut, PACARAN.

Argh! Gue lagi mengalami masa-masa.. Ampun deh, susahnya untuk bertahan ketika gue mulai memasuki karakter-karakter asli pasangan. Bahkan, gue pun mulai paham karakter asli gue gimana ketika gue menghadapi masalah yang, oh tentu berat. Gue lagi sedih, kenapa terkadang segala yang gue inginkan gak sesuai dengan harapan gue, atau rencana gue.

Yang paling susah untuk di selesaikan itu adalah problema “Personal Interest”, ketakutan-ketakutan akan sebuah kehilangan karena waktu yang dilewati gak sebentar dan kuantitas trouble yang sudah bisa ditaruh di kamar administrasi, pakai nomor, dan sesuai abjad. Belum lagi ini udah bukan hubungan yang isinya cuma manis-manis belaka.

Ada lagi masalah tentang kepuasan diri. Apa tuh? Ya merasa “Gue udah ngelakuin banyak hal buat dia, gue udah terima segala kekurangan-kekurangannya. Kenapa sih dia gak bisa blablabla juga ke gue?” atau rasa semacam (ini yang paling utama) “KECURIGAAN” ta1 ucing ini. “Dia kemana? Sama siapa? Kok tadi begini, sekarang begitu? Jangan2 cuma alasan buat jalan sama cewe lain blablabla” Guys, stop it! Ketika kalian merasa lelah, stop untuk memandat diri untuk terus mengulang-ulang apa yang ngebuat capek. Istirahat, pasrah. Gosh, emosi sama diri sendiri jadinya!

What else? Kurangnya waktu serta komunikasi karena kesibukan masing-masing. Apalagi kalau udah capek yah, mau omongin masalah juga udah marah-marah aja bawaannya. Trus.. Godaan? Oh pasti ada. Jangan kira godaan hanya berlaku untuk lelaki, perempuan juga punya sisi Angels and Demons. Don’t mistake us. Ketika pacar udah mulai “Ya udah lah ya, kita udah lama. Gak perlu lagi bermanis ria, yang penting komitmen” Hey, dear men! We still do need that kind of sweet little affections, loh! Ketika kalian para lelaki perlakuannya mulai datar dan gak bisa kontrol sifat-sifat buruk yang asli, gak menutup kemungkinan akan ada lelaki lain yang kemungkinan lebih menarik, datang, dengan sejuta candies on his hands. Jujur, pernah ada godaan semacam ini muncul. apalagi temen gue banyak cowonya. But kembali lagi ke poin “Ketakutan-ketakutan akan sebuah kehilangan karena waktu yang dilewati gak sebentar dan kuantitas trouble yang sudah bisa ditaruh di kamar administrasi, pakai nomor, dan sesuai abjad“. Jadi segala niat untuk belok kanan atau kiri gue urungkan, for sure.

Perempuan sebenarnya jauh lebih kuat dari lelaki. Apalagi, let me say this, gue. Gak bermaksud membanggakan diri but ini nyata, kok. Susah, asli susah ketika gue pengen ke Timur sedangkan pacar gue masih punya ambisi ke Barat. Susah untuk meredam segala emosi dari jiwa-jiwa tempramen macam gue dan dia. Tapi memilih untuk bertahan? Menurut gue itu adalah salah satu pencapaian yang cukup baik dalam hidup kami.

Kenapa bertahan? Karena gue takut, apa yang gue sia-siakan itu ternyata yang terbaik. Dan gue menyadari itu ketika udah bukan milik gue lagi. Cliche, tapi percayalah. Selama masih punya sisa tenaga dan kesabaran, cobalah untuk encounter all the troubles and dilemmas. It’s worth it, kok..

Aku tunggu kau pulang, sayang..

Saat perasaan tengah bersemedi di dalam gulana, hati lebih mudah mengerti siratan makna bahkan yang sehalus benang sutra. Makna apa saja. Termasuk apa-apa yang tersirat di dalam dingin mu yang begitu membekukan.

Aku tau, sayang. Jarak yang kau butuhkan lebih jauh dari tempat ku berdiri saat ini, kau bentang dalam rangka ingin mencintai ku lebih baik. Kau ingin memberikan sisi dirimu yang terbaik untuk hidup mu dan mungkin, untuk kita. Maka jarak ini tidak aku sia-siakan untuk berlatih menjinakkan egoku yang selalu ku biarkan lepas dengan liarnya sehingga membuat siapapun tertekan karenanya.

Aku cemas, dan aku tidak tenang. Karena seperti itulah hati; mudah cemas ketika suatu hal menyenangkan yang pernah dirasakan tengah menjauh. Namun bukan berarti aku punya hak untuk mengusik seseorang yang juga sedang tidak tenang. Maka jarak yang pada akhirnya aku ikhlaskan terbentang diantara kau dan aku, menjadi salah satu bentuk dukungan ku agar kau bisa mencapai apa yang kau inginkan. Agar kau bisa mengobati apa yang tengah cedera di dalam pikiranmu. Agar aku bisa sekejap bahagia kembali karena melihat mu tersenyum.

Kamu tahu, aku tidak menyukai jarak dan aku benci diabaikan. Tapi demi menjaga mu dalam kebaik-baiksajaan, aku merelakan kebencian-kebencian dan ketidaksukaan itu perlahan pudar. Karena tak ada yang mampu mencintaimu sebaik yang aku lakukan padamu. Tidak ada yang mampu memeluk semua kekuranganmu seerat yang tanganku lingkarkan pada tubuhmu. Dan hanya aku yang sanggup bertahan dengan segala kekurangan yang kau akui dan serahkan ke dalam pangkuanku.

Aku pecinta yang apa adanya, aku suka menghangatkanmu, dan aku tak menuntutmu banyak selain waktumu yang aku butuhkan untuk menyampaikan rasa rinduku. Namun maafkan bila rasa sayang ku menyakitimu.

Aku tau kau mandiri, kau sungguh kuat, dan kau punya segala hal yang bisa membuat impianmu terwujud. Kau begitu baik dalam perihal mencintaiku dengan tulus. Itu semua ada di dalam dirimu yang membuatku begitu dalam mencintaimu.

Tak pernah ada satu hari pun yang terlewatkan tanpa aku doakan supaya kau bisa selalu merasa baik, mendapatkan segala yang kau inginkan, dan berbahagia.

Kejar impianmu, sayang. Aku tunggu kemarahan-kemarahanmu karena aku ceroboh. Aku tunggu muka konyolmu ketika merayuku. Aku tunggu teguranmu ketika aku belum makan, atau pulang terlalu malam, atau ambekanmu ketika kau ku abaikan. Aku tunggu kau pulang..

Frienddd…shippy Things?

Gue punya temen baik tuh kayaknya gak banyak. But when it comes to: gue hanya mau ceritain rahasia terdalam gue sama orang2 yang SANGAT gue percaya.. Tiba-tiba mikir “Lhooo… Kok jadi banyak yang tau???” :’D

Ya mereka juga paling percaya sama gue. Sampe rahasia-rahasia paling nista mereka pun ceritanya ke gue. Karena mungkin satu sih.. I don’t fake things. Ya kalo emang ada yang salah sama orang dan ngebuat gue jadi ogah temenan, gue bakal tunjukin kok. That’s why gue gak sedikit punya haters. Begitu juga kalo gue ngerasa nyaman temenan. Gue gak ada duit ya ngomong, ada yang salah sama temen gue bakal gue sampein mau sepahit apapun. Gue gak akan bilang gue punya Ferari, pedahal yang gue punya cuma Kijang Innova, istilah nya gitu. Karena, gue gak akan merasa gue terbang selama gue masih di berpijak di tanah (deuh jadi nyinyirin orang kan gue). Just simply being kind aja sama orang-orang yang mau diajak ngobrol dan waras.

Yah emang gak gampang untuk nemuin temen-temen yang bisa deket mengingat sesupel-supelnya orang, saya milih-milih juga pemirsa. Tapi alhamdulillah dari banyak temen yang B aja, yang bener-bener gue anggep temen banyak juga ternyata. Walaupun itu-itu aja sih dan gak niat untuk nambah. Karena temenan sama kayak pacaran. Pas proses mau deket tuh cape harus ngertiin karakter masing-masing. Ada yg songong, baper, sok eksis, sok bossy, terlalu lemah lembut, terlalu alim, pendiem, terlalu gosip dan iri dengki. Ada tukang adu domba kayak si anying itu. Maaf kasar, super kesel 2016. Deeuuhh buk ibuk, saya benci dramak!!

Gak pernah gue mepet-mepet sama orang tajir, atau orang eksis buat numpang jadi benalu mereka. I better off alone and stand upon my own feet, I swear. Yah buat yang ngerti gue mah paham banget gue yang begini. Gue gak pernah peduli terhadap gosipan miring orang-orang terhadap gue dan gak pernah mau dianggep istimewa ditengah banyak orang. Atau baper ketika si geng ini gak mengajak gue pergi or makan. Hahaha tai kucing, gak butuh. Lo lo, gue gue. Selesai.

Dan ternyata setelah dikilas balik, memang lah untuk persoalan teman perempuan gue emang udah paling cocok sama cewe tomboy yang super cuek dan mandiri. Gak baperan, dan gak drama lu punya idup. Kelar. Biasanya sama cewe-cewe begini gue nyambung di segala obrolan dan sering bertukar advice yang solving parah. Jadilah lu temen baik gue forever yang akan gue treat seperti gue treat pacar gue. Liat dah umur-umur temenan gue sama para cewe feminin, gak akan bertahan lama. Karena guwwweeeee~ Bukan baby sitter lu yang harus ngejaga perasaan lu yang terlalu fragile itu…

Lu taro lah gue di tempat yang penuh dengan perempuan feminin, niscaya gue akan menghilang dari peradaban dunia. Atau disuruh nimbrung ke satu geng-gengan yang kemana-mana kek anak ayam ngintil mulu. Mau ke kanin aja kudu nungguin yang lainnya. Kelamaan tau gak lo. Duh… Nehi-nehi tumkarahe~ Bersyukur tingkat dewa lah udah punya temen-temen yang still exist sekarang. Haha.. Lucu sih kalo diinget-inget.

Dua hari belakangan ini, which is Senin dan Selasa, ada dua temen deket gue yang mengungkapkan mereka akan mengakhiri pertemanan kalau gue gak menjadikan mereka sebagai Bridesmaid di acara pernikahan gue nanti. Ini lucu…

Senin : “Sis, kalo sampe gue gak jadi Bridesmaid elu mah.. Keterlaluan lu. End gue sama lu, end! Cukup sampai disini (Sambil cross hands depan muke)”

Selasa: “Awas aja kalo sampe gue gak jadi Bridesmaid lo. Gue pecat lu jadi temen, gue block semua media sosial lu (lebhay uga, kak? Wkwk)”

Ini kalo pada baca pasti gak ada yang ngaku nih si anak-anak kampret ha ha ha…

Duh… Itu diluar Bridesmaid inti loh, I mean si Summergirls a.k.a Geng Tete. Belum lagi yang lainnya. Coooeeegg, gue kewong aja kapan tau ya udah dibooking aja :’D Abis duit berapa tar gueh untuk beli bahan doang buat lau-lau padeee wkwk. Tapi gapapa sih, that means kalian sesayang itu sama gue. Sangking sayangnya rela deh gue jadi bahan bully-an kalian dimana-mana hahaha kangen kan kalo jauh dari gue “Si Sista mana nih? Anjir kangen deh sama tuh bocah gak ada yang bisa di bully” Yang ngerasa ngomong gini segera chat gue kalo baca. Hahaha anak-anak setan kalian ya. Thank you lho, loveyou too gals.. Maaf saya suka sekip liat chat kalo lagi pada nyaut di grup tapi seriusan, itu bukannya gue mengurangi rasa cinta gue ke kalian. Mending ketemu deh daripada chat. Ini aja saya udah dikomplen abis-abisan sama si Ghindos karena suka sekip berkabar (-_-“)

Here is the thing. Nyari temen doang gampang. Tinggal sumeh-sumeh aja ke depan muka orang. Tapi menentukan mana kawan mana lawan yang gak gampang. And once you got a bestfriend, keep it. Because they will be your second family forever if you are smart enough to keep them.